• Anime
    Tempat download free anime-anime subtitle Indonesia dan english.
  • IDbase-Manga
    Tempat buat baca komik manga Translate english maupun indo.
  • Software
    Tempat download free software dan game.


Home » 2015 » November » 7 » Wiro Sableng Chapter 1 (12-14)
5:21 PM
Wiro Sableng Chapter 1 (12-14)

Wiro Sableng Chapter 1 Part D

Baca Wiro Sableng Chapter 1

Chapter 1 Empat Berewok Dari Goa Sanggreng


DUABELAS


Dia masih juga mencabuti rerumputan yang bertumbuhan di makam itu. Dia sama sekali tak mengacuhkan derap kaki kuda yang menggeru di belakangnya karena menyangka bahwa itu adalah kuda-kuda yang biasa lalu lalang di tempat tersebut. Tapi tangannya yang halus itu berhenti mencabuti rerumputan ketika di belakangnya terdengar suara tertawa seseorang.

"Haa. haa. inikah manusia yang menjadi anak tunggal keparat Kalingundil?!"

Gadis enam belas tahun yang berlutut di muka makam itu putar kepala. Empat orang penunggang kuda dilihatnya berjejer di belakangnya. Penunggang kuda yang
paling depanlah yang tadi tertawa dan buka suara. Tubuhnya jangkung, berewoknya lebih lebat dari berewok tiga manusia lainnya, tampangnyapun lebih angker.

"Hea. hea. cantik juga parasnya huh?!", kata laki-laki ini yang tak lain dari Bergola Wungu adanya.

"Tapi sayang, kepalanya musti kita pisahkan dari badannya. Bukankah demikian, Bergola Wungu?!"

"Betul, tapi tak perlu cepat-cepat. Agaknya dia bisa memuaskan seleraku dan kalian semua!" Keempat orang itu tertawa bekakakan.

"Kunyuk-kunyuk hitam berewok! Kalian siapa?!", bentak gadis berbaju biru. Dengan enteng dia berdiri. Tangan kanan memegang hulu pedang yang tersisip di pinggang.

"Eh, galak juga betina ini!", kata Ketut Ireng.

"Tapi kalau kau mau kenal kami, aku tak keberatan untuk memperkenalkan diri. Namaku Ketut Irenga. Ini Bergola Wungu. Yang ini, yang gemuk pendek Seta Inging dan ini yang matanya jereng Pitala Kuning. Nah... nah... sekarang kau tak keberatan kasih tahu namamua.?" Keempat orang itu tertawa lagi.

"Manusia edan! Berlalulah dari hadapanku! Kecuali kalau mau rasa tebasan pedangku!"

"Ah, besar mulutnya sama saja sama bapaknya!", kata Bergola Wungu sambil usap-usap berewoknya. "Ketahuilah kami datang untuk mengirim bapakmu ke liang kubur. Itupun kalau ada liang kubur yang masih mau menerimanya!"

"Mulutmu terlalu besar monyet berewok!", hardik gadis itu. "Aku mau lihat apakah juga cukup besar untuk menerima ujung pedangku ini?!"

Diiringi dengan pekik yang membising maka berkiblatlah sebatang pedang ke arah kepala Bergola Wungu! Kejut keempat orang itu, terutama Bergola Wungu sendiri tidak terkirakan. Kalau tidak cepat dia buang diri dari punggung kuda pastilah kepalanya akan terbelah dua. Tapi selagi tubuhnya melayang di udara, maka saat itu pula pedang di tangan si gadis sekali lagi membabat sebat. Bergola Wungu membentak keras dan jungkir balik ke samping kiri. Pedang si gadis yang seharusnya membabat kutung pinggangnya kini menemui sasarannya di leher kuda tunggangan Bergola Wungu. Kuda itu meringkik dahsyat sebelum meregang nyawa. Menggelepar-gelepar dengan leher hampir putus. Kuda-kuda yang lainnya latah meringkik dan menjadi binal melihat muncratan darah. Untung saja tiga penunggangnya sudah melompat lebih dahulu. Kalau tidak pastilah mereka akan dilempar mental! Tiga ekor kuda itu seperti gila kemudian lari menghambur menerjangi batu-batu nisan pekuburan!

"Iblis betina!", kertak Bergola Wungu. "Meski kau punya tampang cantik dan tubuh mulus, apa kau sangka aku ragu-ragu untuk menebas kau punya batang leher?!"

"Jangan jual bacot kunyuk berewok! Lihat pedang!" pedang di tangan si gadis itu berkelebat lagi lebih cepat dan sebat.

"Sreet!" Bergola Wungu cabut golok panjangnya.

Dan.

"Trang!"

Dua senjata beradu keras di udara memercikkan bunga api yang menyilaukan mata. Tangan Bergola Wungu tergetar kesemutan sedang si gadis baju biru terpental beberapa langkah ke belakang. Pedang di tangannya hampir saja terlepas! Meski tahu kalau tenaga dalam dan ilmu silat manusia berewok itu lebih tinggi dari padanya, namun gadis yang keras hati ini tidak menjadi kecut. Dengan lengkingan dahsyat yang keluar dari tenggorokannya maka berubahlah tubuhnya menjadi bayang-bayang. Sinar pedang menggebubu membungkus tubuh Bergola Wungu! Tapi Bergola Wungu bukan manusia hijau dalam dunia persilatan. Bukan anak kemarin. Percuma dia malang melintang belasan tahun menjadi pemimpin dari Empat Berewok dari Goa Sanggreng. Sekali dia enjot kedua kaki maka tubuhnyapun lenyap dari pemandangan.

"Breet.... breet.... breet.... breet....!!!"

Gadis baju biru terpekik dan keluar dari kalangan pertempuran. Mukanya merah gelap ketika menyadari bagaimana ujung golok Bergola Wungu telah membuat lebih dari sepuluh robekan pada pakaiannya sehingga gadis itu kini hampir berada dalam keadaan setengah telanjang!

"Manusia binatang!" rutuk gadis baju biru. "Hari ini aku mengadu nyawa terhadapmu!" Dengan segala kekalapan dia menyerbu ke muka. Pedangnya menderu laksana topan. Bergola Wungu berkelit ke samping. Pedang si gadis hantam batu nisan sehingga terkutung dua! Dia kembali membabat ke arah pinggang. Tapi pada saat itu lengan kiri Bergola Wungu telah menghantam pergelangan tangan kanannya, membuat pedangnya terlepas dan mental jauh.

"Ha.... ha.... hari ini tamatlah riwayatmu sebagai anak Kalingundil!"

Golok panjang di tangan Bergola Wungu kembali mebabat kian kemari. Kembali terdengar suara: breet.... breet.... breet....! Dan kini celana biru si gadis
yang menjadi sasaran ujung golok. Dalam waktu setengah jurus saja boleh dikatakan gadis itu sudah hampir telanjang. Pakaiannya yang robek-robek besar tiada sanggup menutupi keputihan buah dada, perut, punggung serta pahanya!

Dengan andalkan kecepatan gerak bahkan dengan gulingkan diri di tanah anak perempuan Kalingundil ini berusaha untuk selamatkan diri. Namun ujung golok Bergola Wungu benar-benar telah mengurungnya dari pelbagai jurusan. Tak mungkin baginya untuk lari, tak mungkin baginya untuk selamatkan nyawa!

"Sreeta.!"

Ujung rambut gadis itu terbabat putus.

"Sreeta.!"

Tali celana biru si gadis terkutung putus sehingga celana itu jatuh dari pinggangnya dan auratnya benar-benar tiada tertutup kini!

"Bedebah! Bunuh saja aku! Bunuh!" teriak gadis itu.

Bergola Wungu tertawa mengakak. "Bunuh soal mudah!", katanya sambil tekankan ujung golok ke tenggorokan gadis itu. "tapi apa kau tahu bahwa dulu sebelum membunuh ibuku, kau punya bapak lebih dulu memperkosanya?! Haa. haa. Hukum karma kini berlaku! Hukum karma!"

Tiba-tiba dengan kecepatan yang luar biasa si gadis sorongkan batang lehernya ke muka. Tapi gerakan Bergola Wungu lebih cepat lagi. Ujung golok digesernya
ke samping. Begitu si gadis terdorong ke muka maka tangan kirinya dengan sigap menyambar rambut si gadis. Gadis yang hampir tak berdaya itu masih berusaha menendangkan kakinya ke muka. Serangan yang tak berarti itu tidak mengenai sasarannya. Bergola Wungu melemparkan gadis itu ke tanah kemudian menyergapnya dengan ganas. Keduanya bergulung-gulung. Yang satu berusaha untuk mempertahankan kehormatannya, yang satu sengaja untuk menghancurkan kehormatan itu!

"Kawan-kawan!", teriak Bergola Wungu. "Jangan diam saja! Gadis ini adalah bagian kita semua! Ayo tunggu apa lagi?!"

Serentak dengan itu tiga orang anak buah Bergola Wungu segera menyerbu pula. Seorang gadis, empat laki-laki bergulung-gulung di tanah pekuburan! Menjerit, berteriak, menendang dan menerjang. Seakan-akan mereka semua sudah sinting kemasukan setan-setan kuburan!


TIGABELAS


Pembalasan dendam kesumat memang dahsyat. Apalagi kini disertai dengan dorongan nafsu hewan yang meluap-luap. Keadaan Nilamsuri benar-benar sudah kepepet. Tenaganya sudah hampir habis. Empat pasang tangan manusia menggerayang di seluruh tubuh yang tertelentang di atas sebuah makam tua.

"Haa.ha...ha! Tulang belulang kau punya ibu akan menyaksikan pelaksanaan hokum karma ini!" kata Bergola Wungu.

Nilamsuri hantamkan lututnya ke perut laki-laki itu ketika Bergola Wungu hendak mendatanginya dari atas. Tapi hantaman lutut yang tiada bertenaga sama sekali
itu tiada terasa oleh manusia berewok itu!

"Keparat! Bunuh saja aku! Bunuh!", teriak Nilamsuri.

"Kehormatanmu dulu, baru nyawamu!." Bergola Wungu mengekeh. Disaksikan oleh tiga anak buahnya yang juga menggerayangi tubuh gadis enam belas tahun itu, Bergola Wungu mulai melaksanakan niat terkutuknya. Runtuhlah harapan Nilamsuri untuk bisa selamatkan diri. Air mata meleleh di pipinya.

Namun nasib Nilamsuri tidak seburuk yang dibayangkannya saat itu. Satu bayangan putih berkelebat dari sebelah timur pekuburan yang tanahnya agak membukit. Dan tahu-tahu keempat orang yang mengerumuni Nilamsuri menjadi kaku tegang laksana patung batu! Nilamsuri yang hanya merasakan sambaran angin serta gerayangan-gerayangan tangan pada tubuhnya berhenti dengan mendadak, membuka kedua matanya yang berkaca-kaca itu. Terkejut sekali dan hampir tak percaya dia melihat bagaimana keempat manusia berewok itu masih berjongkok di sekelilingnya tapi mata mereka semua melotot dan tubuh mereka tegang kaku!

Gadis ini bangkit dengan cepat. Apakah yang telah terjadi dengan keempat manusia itu? Dia ingat pada desiran angin tadi. Mungkin ada manusia yang telah
menolongnya? Manusia yang mempunyai kesaktian luar biasa? Diperhatikannya keempat laki-laki itu. Ternyata mereka tertotok urat besar di pangkal leher masing-masing. Atau mungkin keempatnya telah dicekik oleh setan kuburan?!

Peristiwa yang sangat aneh itu membuat Nilamsuri lupa akan keadaan dirinya sendiri saat itu. Dia memandang berkeliling. Matanya membentur segulung benda putih yang tergeletak di atas batu nisan sebuah kuburan. Benda ini adalah sehelai baju dan celana putih. Dan memandang pakaian itu sekaligus mengingatkan Nilamsuri pada keadaan dirinya. Tanpa perduli lagi siapa pemilik pakaian itu, tanpa ambil pusing lagi bagaimana pakaian itu bisa berada di atas kuburan tersebut si gadis langsung saja melompat, menyambar pakaian itu dan lari ke balik serumpun semak-semak. Dikenakannya pakaian itu cepat-cepat. Meski agak kebesaran sedikit, tapi pakaian itu memberi banyak pertolongan bagi Nilamsuri dan si gadis merasa sangat bersyukur.

Dia keluar dari balik semak-semak itu. Dan ketika terpandang olehnya keempat manusia yang masih berjongkok kaku di seberang sana maka meluaplah amarahnya. Mendidih darahnya. Disambarnya pedangnya yang tergeletak di tanah. Sinar pedang berkiblat sekaligus menyambar ke arah kepala Bergola Wungu dan anak-anak buahnya.

"Tring!"

Sebutir kerikil sebesar ujung jari telunjuk membentur pertengahan pedang yang hendak merenggut nyawa keempat manusia berewok itu. Dan benturan batu kerikil ini membuat pedang di tangan Nilamsuri terdorong setengah tombak ke atas, lewat satu jengkal di atas kepala Bergola Wungu dan tiga orang lainnya itu!

Terkejut anak gadis Kalingundil ini bukan kepalang. Serentak dengan itu dia membentak dan memandang berkeliling. "Manusia atau setan yang jadi biang kerok jangan sembunyi! Unjukkan diri!"

Tak ada yang menyahut. Tapi rerumpunan semak belukar di dekat pohon kamboja kelihatan bergerak. Dan Nilamsuri hantamkan pukulan tangan kosong ke arah semak belukar itu. Semak belukar tercabut dari akarnya dan berhamburan jauh, tapi tak ada siapapun kelihatan di belakang sana. Dengan gemas Nilamsuri balikkan tubuh. Pedangnya kembali membabat ke arah empat kepala manusia di hadapannya. Namun sekali lagi sebutir kerikil membentur senjata itu!

"Kurang ajar betul!", maki Nilamsuri. "Jika berani cari urusan, berani unjukkan diri!!"

Terdengar suara tawa bergelak. Suara tertawa itu datangnya dari balik pohon-pohon bambu di tepi pekuburan. Untuk kedua kalinya Nilamsuri lepaskan pukulan tangan kosong. Angin deras melanda pohon-pohon bambu. Batang-batang bambu pecah, yang tercerabut dari akarnya segera tumbang sedang daun-daunnya luruh ke tanah. Tapi seperti tadi kali ini juga tidak kelihatan seorang manusia pun dibalik pohon-pohon bambu itu! Gemas Nilamsuri bukan main. Terdengar lagi suara tertawa bergelak. Kali ini diiringi dengan ucapan, "Hanya manusia pengecut yang membunuh musuh dalam keadaan tak berdaya!" Nilamsuri memandang ke atas pohon kamboja merah. Detik itu juga sesosok tubuh kelihatan lenyap berkelebat ke utara laksana gaib!

Nilamsuri kertakkan rahang. Tanpa menunggu lebih lama gadis ini hentakkan kedua kaki dan segera mengejar ke jurusan utara! Sampai beberapa ratus tombak jauhnya ke utara Nilamsuri masih juga belum berhasil mengejar orang tadi. Jangankan mengejar, melihat bayangannyapun tidak bahkan jejak kakinya sama sekali tidak kelihatan di tanah. Gadis itu menghentikan pengejarannya di tepi sebuah lembah. Di samping rasa geram hatinya juga heran dan bertanya-tanya. Siapakah manusia itu tadi dan kemanakah lenyapnya? Apakah manusia itu yang telah menolongnya dari perbuatan terkutuk Bergola Wungu dan kawan-kawannya? Sekiranya betul mengapa lantas kemudiannya orang itu menghalangi ketika dia hendak menebas batang leher keempat manusia berewok itu?

Nilamsuri memandang lagi ke dalam lembah. Segala sesuatunya diselimuti kesunyian. Kemudian gadis ini memandang kepada pakaian yang dikenakannya. Pakaian ini ditemuinya di atas sebuah makam. Apakah pakaian ini sengaja pula ditinggalkan untuk dipakainya oleh manusia aneh yang melarikan diri itu?

Nilamsuri memutar tubuhnya hendak kembali ke pekuburan. Tapi dengan serta merta tertahan ketika di belakangnya dari balik sebatang pohon waru terdengar
suara orang berkata. "Hendak kembali membuat kepengecutan? Membunuh musuh yang tak berdaya? Percuma tahu ilmu silat tapi tidak tahu tata peradatan silat!"

Bukan main geramnya Nilamsuri mendengar ejekan itu. Dia melompat ke arah pohon waru. Tapi lebih cepat lagi gerakannya itu orang yang tadi berkata telah
berkelebat laksana bayang-bayang dan lari ke dalam lembah.

"Manusia atau setan! Jangan lari!" teriak Nilamsuri. Dan segera pula dia mengejar ke dalam lembah. Tapi seperti tadi, begitu dia sampai di dasar lembah
maka orang yang dikejarnya lenyap lagi! Dengan hati penasaran gadis ini loncat ke atas sebatang pohon tinggi dan dari sini memandang ke seantero lembah
untuk menyelidik kemana larinya orang tadi. Namun ini juga tidak memberikan hasil. Nilamsuri turun kembali. Dijelajahinya sebagian dari lembah. Hatinya
belum puas kalau belum berhasil menemui orang yang dikejarnya itu. Di tepi sebuah anak sungai akhirnya gadis ini hentikan langkah. Sejurus kemudian dia termangu di tepi sungai ini. Kemudian hidungnya dilanda oleh bau harum dari sesuatu yang dipanggang.
Bau ini dating dari arah hulu sungai, membuat tenggorokannya menerbitkan air liur. Gadis ini langkahkan kaki ke hulu sungai.

Belum sampai lima puluh langkah dia berjalan, maka di satu tikungan sungai yang arus airnya lebih cepat mengalir, dilihatnya duduk ditengah sungai, di atas
sebuah batu besar yang licin kehitaman, seorang laki-laki. Laki-laki ini duduk membelakanginya dan rambutnya gondrong, berpakain putih-ptuih. Tak tahu
Nilamsuri apa yang dibuat orang ini ditengah sungai ini di atas batu itu. Berat kecurigannya bahwa manusia ini adalah orang yang tadi dikejarnya. Tapi
anehnya santarnya bau benda yang terpanggang itu datang dari arah laki-laki di tengah sungai ini!

Nilamsuri terus melangkah beberapa jauhnya ke hulu sungai, melewati laki-laki itu, untuk dapat melihat apa yang tengah dilakukannya. Nilamsuri masih belum
dapat melihat paras laki-laki berambut gondrong itu. Tapi dari tempatnya berdiri saat itu dapat disaksikannya bahwa bau harum yang membuat titik seleranya
itu disebabkan oleh seekor ikan besar yang dipanggang oleh laki-laki itu dan kini tengah digerogotinya dengan lahap!

Ikan panggang itu masih mengepulkan hawa hangat. Yang tidak dimengerti sama sekali oleh Nilamsuri ialah bahwa di atas batu itu di mana laki-laki itu duduk
atau ditepi sungai sama sekali tidak dilihatnya bekas-bekas perapian untuk membakar ikan yang kini tengah dimakan dengan lahap oleh si rambut gondrong! Nilamsuri berpikir sejurus. Kemudian berserulah dia ke tengah sungai.

"Saudara! Apa kau melihat seseorang lewat sekitar sini?!"

Laki-laki di tengah sungai tidak menjawab. Malah menolehpun tidak dan dengan lahapnya terus saja dia makan ikan panggang itu.

"Saudara!", seru Nilamsuri sekali lagi.

Kali ini orang itu palingkan kepala. Dan Nilamsuri terkesiap sejenak karena tak menyangka kalau si rambut gondrong ini nyatanya adalah seorang pemuda bertampang keren! Meski keren tapi paras itu membayangkan pula paras anak-anak dan lucu!

"Eha. kau bicara sama aku?" tanya pemuda yang asyik menggerogoti ikan panggang itu.

"Ya! Aku tanya apa kau lihat seseorang lewat di sini?!" kata Nilamsuri pula.

"Laki-laki atau perempuan?" tanya si rambut gondrong.

"Laki-lakia."

"Orangnya sudah tua apa masih mudaa.?"

"Kurang jelas. Cuma dia berpakaian putih-putih...."

Si rambut gondrong melemparkan kerangka ikan yang habis dimakannya ke dalam sungai. Kemudian dipandanginya pakaiannya sendiri. "Eh, aku juga berpakaian putih putiha.," katanya. "Kalau begitu pastilah aku yang kau cari!". Pemuda ini garuk rambutnya dan tertawa.

Sikap dan ucapan pemuda ini agak mengesalkan Nilamsuri. Hatinya bimbang untuk memastikan bahwa orang yang dikejarnya adalah pemuda itu. Karena tampangnya meski keren tapi seperti kanak-kanak.

"Eh, kenapa diam?!" tanya pemuda itu. "Aku tahua. aku tahua.," katanya.

"Tahu apa?"

"Aku tahu kau sampai ke sini karena mencium harumnya bau ikan panggangku! Lalu kau berpura-pura tanya seseorang! Kenapa musti pura-pura dan malu-malu? Kalau doyan ikan panggang silahkan datang kemari. Aku masih ada seekor lagi!"

"Saudara! Jangan bicara seenaknya!"

"Seenaknya bagaimana?!"

"Aku betul-betul mencari seseorang! Dan aku tidak butuh sama ikan panggangmu!"

"Oha. begitua.?". Pemuda itu manggut-manggut. Lalu katanya, "Kalau aku tahu tentang orang yang kau cari itu, kau mau persen aku apa?"

"Apa saja yang kau mauia.", jawab Nilamsuri tanpa pikir panjang karena dia betul-betul ingin lekas-lekas dapat mengejar orang yang dicarinya tadi. Si pemuda tertawa mengekeh dan tercekik serta batuk-batuk ketika ikan panggang yang dimakannya menyekat tenggorokannya.

"Kalau begitua.," kata pemuda rambut gondrong itu dengan masih tertawa serta batuk-batuk, "aku mau dirimu saja saudari."

"Pemuda ceriwis! Kutampar kau punya mulut baru rasa!"

"Lhoa," pemuda itu melongo macam orang bodoh. "Kenapa kau jadi marah?!" tanyanya.

Benar-benar kesal jadinya Nilamsuri. Dikatupkannya mulutnya rapat-rapat menahan rasa kesal itu.

"Eh, sekarang kau tutup mulut. Lucu! Kau toh belum jawab pertanyaanku, saudari. Aku minta dirimu. Boleha.?"

Rasa kesal di diri Nilamsuri kini berubah menjadi amarah yang meluap. Parasnya kelihatan merah. Sekali lompat dia sudah berada di hadapan pemuda itu, di atas batu besar. "Pemuda edan, kau mau mampus?!"

Si gondrong garuk-garuk kepala. "Aku tidak mengerti saudari, aku benar-benar tidak mengerti. Menapa kau jadi marah-marah begini samaku?!"

"Bicaramu terlalu kurang ajar, tahu?!"

Pemuda itu goleng kepala dan angkat bahu. Lalu tertawa sambil memandangi paras Nilamsuri. "Kau tahu saudaria," katanya, "kalau kau marah-marah dan membentak macam tadi hema. parasmu tambah cantik!"

"Plak!"

Tamparan tangan kiri Nilamsuri mendarat di pipi si pemuda. Pemuda itu meringis kesakitan. Penyesalan timbul di hati Nilamsuri melihat bagaimana pipi yang
ditamparnya itu kelihatan menjadi sangat merah.

"Kau jahat sekali!," kata si pemuda pula. "Aku tanya sama kau, kau mau persen aku apa kalau aku tahu orang yang kau cari itu. Dan kau jawab apa saja mauku!
Lantas aku bilang mau dirimu! Apa aku salaha.?!"

Nilamsuri menggigit bibirnya. Dia tahu ucapan pemuda itu betul. Dia tahu kalau tadi dia telah ketelepasan bicara.

"Saudaraa," kata Nilamsuri.

Tapi si pemuda memotong. "Sudahlah. Aku tak sudi bicara sama kau. Orang mau menolong dikasih tamparan. Baru mau menolong. Kalau sudah ditolong aku akan dapat tendangan!"

Dan Nilamsuri menggigit bibir lagi. Tanpa berkata apa-apa dia melompat ke tepi sungai kembali.

"Hai saudari! Tunggu dulu!", seru si pemuda.

Nilamsuri balikkan badan.

"Sebenarnya ada apa kau mencari laki-laki itu?!"

"Itu urusanku sendiri!", jawab Nilamsuri.

"Laki-laki itu kekasihmu agaknya?"

"Kau mau tamparan sekali lagi?!"

Si pemuda tertawa. "Dunia serba aneh," katanya seakan-akan pada diri sendiri. "Mustinya laki-laki yang cari perempuan. Ini perempuan yang cari laki-lakia.!"
Dan digaruknya kepalanya.

Dalam pikiran Nilamsuri terbit prasangka bahwa tentunya pemuda itu seorang yang berotak miring. Karenanya tanpa ambil perduli lagi dia segera tinggalkan
tempat itu.

"Hai saudari! Kau tidak mau ikan panggang ini?!"

Nilamsuri terus saja menyusuri sungai menuju ke hulu. Dia hampir keluar dari kelokan sungai ketika didengarnya lagi suara pemuda itu berseru. Jarak antara
mereka saat itu sudah puluhan tombak. Kalau saja Nilamsuri mau berpikir sejenak dia akan segera tahu kalau pemuda itu bukan berteriak biasa tapi dengan menggunakan tenaga dalam. Karena dalam jarak sejauh itu bagaimanapun kerasnya seseorang berteriak namun apa yang diucapkannya tak akan terdengar dengan jelas.

"Saudari! Jangan pergi ke sana! Saudari, kembalilah!"

Nilamsuri melangkah terus.

"Saudari! Hai! Disebelah sana banyak buayanya! Kembalilah!"

Tapi Nilamsuri jalan terus. Si pemuda goleng-goleng kepala lalu turun ke air. Nyatanya sungai itu dalamnya hanya sebatas lutut. Begitu sampai di seberang
si pemuda cepat lari menyusul Nilamsuri.

"Saudari kau mau kemana?!", tanya pemuda itu seraya pegang bahu Nilamsuri.

"Kau jangan kurang ajar, saudara!" bentak Nilamsuri karena marah sekali bahunya dipegang seenaknya.

"Kau mau kemana?"

"Perduli apa kau?!"

"Jangan kesana saudari. Banyak buaya lagi berjemura.". dan belum habis pemuda ini bicara tahu-tahu dua ekor buaya besar menyeruak dari belakang semak belukar di tepi sungai.

"Aku bilang apa! Celakaa.! Saudari larilah!" Pemuda itu melompat ke belakang. Sementar itu kedua ekor buaya dengan cepat meluncur menyerang Nilamsuri. Gadis itu cabut pedangnya. Sekali menebas puntunglah sebagian dari mulut buaya yang hendak menerkamnya. Binatang ini menggelepar-gelepar di pasir. Buaya kedua mengalami nasib yang sama. Bau anyirnya darah yang masuk ke dalam air sungai mengundang munculnya beberapa ekor buaya lagi. Binatang-binatang itu menyelusur ke tepi sungai dan berlomba menyergap Nilamsuri. Tapi si gadis dengan permainan pedangnya yang mengagumkan berhasil menewaskan semua buaya itu!

Si pemuda geleng-geleng kepala dan leletkan lidah. "Hebat! Hebat sekali kau saudari!", katanya memuji. "Kau tentu seorang jago silat! Sejak lama aku ingin
belajar silat! Bersediakah kau mengambil aku jadi murid?!"

"Jangan ngaco!", bentak Nilamsuri.

"Aku tidak ngaco. Aku bicara sungguhana.".

"Buka lagi mulutmu!", bentak Nilamsuri. Pedangnya masih merah oleh darah buaya-buaya tadi siap ditetakkannya ke kepala pemuda itu. Tentu saja pemuda ini cepat-cepat melompat ke samping.

"Saudari, aku betul-betul ingin belajar silat padamua."

Nilamsuri pencongkan hidung. "Tidak malu merengek macam anak kecil!", ejeknya.

Si pemuda agaknya jadi kesal, lalu menyahuti. "Kau sendiri tidak malu pakai pakaian laki-laki!"

Memang saat itu Nilamsuri mengenakan baju dan celana laki-laki berwarna putih yakni pakaian yang tadi ditemuinya di atas sebuah kuburan. Dan parasnya menjadi kemerahan. Cepat-cepat dia berlalu dari situ.

"Saudaria. Tunggua.!"

"Apalagi?!"

"Kalau kau tak mau ambil aku jadi muridmu, tak apa. Tapi ada satu permintaanku yang laina. Boleh aku tahu namamu?"

"Manusia macammu tak perlu tahu namaku!"

"Ah saudari, kau sombong betul. Beri tahu namamu, nanti kuberi tahu namakua."

"Siapa sudi tahu namamu segala?!"

"Namaku Wiro Sableng saudaria. Harap kau mau kasih tahu kau punya namaa."

"Wiro Sableng?" ujar Nilamsuri.

Pemuda itu mengangguk.

"Pantas," kata Nilamsuri pula.

"Pantas kenapa?" tanya Wiro.

"Pantas lagakmu seperti orang edan!" dan habis berkata begitu Nilamsuri segera berlalu.
Karena merasa sia-sia untuk meneruskan pencariannya maka Nilamsuri akhirnya memutuskan untuk cepat-cepat kembali ke pekuburan. Sebenarnya, gadis ini telah bertemu dengan orang yang telah menolongnya sewaktu dikeroyok oleh Bergola Wungu dan anak-anak buahnya. Cuma Nilamsuri tidak tahu sama sekali kalau orang yang ditemuinya itulah tuan penolongnya. Dan siapa adanya orang yang menolong Nilamsuri tiada lain dari pada Wiro Sableng itu pemuda yang baru turun gunung yang sikap serta lagaknya begitu lucu sehingga setiap orang akan menduga bahwa dia tentunya seorang yang kurang waras.

Ketika Nilamsuri kembali ke pekuburan itu, yang ditemuinya bukanlah Bergola Wungu dan ketiga orang anak buahnya melainkan Wiro Sableng! Pemuda ini tengah berlutut menepekur di hadapan sebuah makam yang tanahnya hampir rata dan penuh ditumbuhi rumptu-rumput liar serta kotor oleh daun-daun kering.

"Kemana perginya kunyuk-kunyuk berewok itu?" pikir Nilamsuri. Penasaran sekali dia jadinya. Sudah tak berhasil mengejar manusia yang diburunya kini empat musuh besarnya telah lenyap sepeninggal pengejarannya. Dan apa pula urusan pemuda berotak miring yang mengaku bernama Wiro Sableng itu di pekuburan ini?
Makam siapa yang tengah ditepekurinya itu?

Kemudian Nilamsuri melilhat Wiro berdiri dari berlututnya. Dan ketika dia memalingkan muka, Nilam melihat pada paras pemuda itu jelas terbayang rasa sedih yang mendalam. Atas banyak kejadian aneh yang tengah dialaminya sampai saat itu diam-diam Nilamsuri ingin sekali tahu siapa adanya pemuda berambut gondrong ini. Dibukanya pembicaraan denga bertanya, "Saudara, waktu mula-mula kau datang kesini apa ada melihat empat orang laki-laki berewok?"

Bayangan kesedihan pada paras Wiro Sableng segera sirna. Dan pemuda ini tersenyum. "Kau lucu sekali saudari," kata Wiro. "Pertama kali jumpa, ditepi sungai tadi kau tanya satu orang laki-laki. Kalau jumpa ketiga kali nanti, kira-kira berapa orang laki-laki yang bakal kau tanyai padaku?!"

Mau tak mau paras Nilamsuri menjadi merah oleh ucapan Wiro Sableng itu.

"Saudara," katanya, "Kau siapakah sebenarnya?"

"Siapa aku bukankah aku sudah kasih tahu tadi di hulu sungai? Kenapa tanya lagi? Kau sendiri tidak mau kasih tahu nama."

Nilamsuri terdiam. Kemudian diputarnya pembicaraan dengan bertanya, "Makam siapa itu?"

"Kau bisa baca sendiri pada batu nisana." jawabnya. Penuh rasa ingin tahu Nilamsuri melangkah dan mendekati nisan makam tua itu. Nisan itu terbuat dari
batu. Barisan kalimat yang terukir pada batu yang sudah retak-retak itu tak jelas lagi. Tapi Nilam masih bisa membacanya. Dan pada batu nisan itu tertulis:
"DISINI TELAH DIMAKAMKAN SUCI BANTARI"

Melihat Wiro yang masih muda, Nilamsuri tahu kalau orang yang bernama Suci Bantari itu bukanlah isteri Wiro Sableng.

"Ibumua.?", tanyanya.

Pemuda itu mengangguk perlahan. Dia teringat pada keterangan Eyang Sinto Gendeng ketika dia masih digembleng di puncak Gunung Gede dulu. Menurut perempuan sakti itu dia telah dipelihara sejak masih orok. Kini sesudah belasan tahun, sesudah menjadi seorang dewasa, sesudah sekian lama tiada mengenal kasih sayang ayah bunda, maka yang ditemuinya hanyalah dua onggok makam yang tiada terawat sepantasnya. Makam ayah dan makam ibunya.

"Kalau begitu kau adalah penduduk sinia.?"

Wiro Sableng mengangguk lagi. "Aku tak pernah mengenal mereka."

"Maksudmu ayah dan ibumu?"

"Yaa Keduanya menemui ajal karena kebiadaban seseoranga."

"Dibunuha.?"

Wiro Sableng mengangguk. Matanya yang biasanya bersinar lucu itu kini kelihatan kuyu dan kedua matanya itu memandang pada bangkai kuda yang lehernya hampir punting terbabat pedang Nilamsuri sewaktu terjadi pertempuran antara gadis itu dengan Bergola Wungu dan anak-anak buahnya. Wiro menggeram dalam hati. Nasib ayahnya tidak lebih baik dari kuda itu!
Nilamsuri sementara itu tenggelam dalam alam pikirannya sendiri. Tadipun Bergola Wungu mengatakan bahwa orang tuanya mati dibunuh, dibunuh ayahnya Kalingundil, ayahnya sendiri. Apakah orang tua pemuda ini ayahnya juga yang telah membunuhnya? Kalau benar maka pastilah pemuda ini datang untuk mencari urusan. Untuk menuntut balas sebagaimana kemunculan Bergola Wungu dan anak buahnya. Jadi manusia ini tak lebih dari seorang musuh pula baginya!

Tapi untuk meyakinkan maka bertanyalah Nilamsuri. "Siapakah manusianya yang membunuh kedua orang tuamu, Saudara?"

"Ah panjang kisahnya. Kalaupun kuberi tahu kau tak akan kenal mungkin. Dan lagi semua itu bukan urusanmua."

"Apakah pembunuh itu bernama Kalingundil?" memancing Nilamsuri dengan hati berdebar. Dadanya lega ketika dilihatnya Wiro Sableng menggeleng.

"Kau sendiri perlu apa datang ke pekuburan ini?" bertanya Wiro.

"Sama dengan kau. Untuk menyambangi makam ibukua." Dan Nilamsuri menceritakan apa yang telah terjadi dengan dirinya ketika dia tengah mencabuti rumput-rumput di makam ibunya. Tapi tidak diterangkannya mengapa sampai Bergola Wungu hendak merusak kehormatannya dan hendak membunuhnya!

"Sungguh aneh cerita tentang manusia yang telah menolongmu itu saudari," kata Wiro Sableng pula dengan menahan rasa gelinya. "Pastilah dia seorang manusia sakti luar biasa. Mungkin juga dia seorang malaikata.!"

Nilamsuri hanya termangu. Tapi diam-diam matanya melirik pada Wiro Sableng. Kalau tadi memang dia kagum akan paras pemuda yang keren ini tapi karena bicaranya yang usil serta lucu tapi kurang ajar itu, maka kini bicara secara baik-baik nyatanya pemuda itu bukanlah seorang yang kurang ingatan.

"Kalau sekiranya kau menemui pembunuh orang tuamu itu," bertanya Nilamsuri, "apakah kau juga akan membunuhnya?"

Wiro Sableng tertawa, "Itu tak perlu musti dijelaskan lagi saudari," sahutnya. Nilamsuri ingat pada nasib buruknya yang tadi hendak menimpanya. Lalu berkatalah perempuan ini, "Dunia ini penuh dengan ketidakadilan!"

"Ketidak adilan macam mana maksudmu saudari?" tanya Wiro Sableng pula.

Nilamsuri hendak membuka mulutnya. Tapi cepat-cepat mulut itu dikatupkannya kembali. Hampir saja terluncur rahasia mengapa Bergola Wungu hendak membunuhnya.
Gadis ini kemudian hanya gelengkan kepala. "Nanti kau bakal mengalami sendiri mungkin," katanya. "Sekurang-kurangnya melihat dengan nyata ketidakadilan
berlangsung di depan matamu."

Wiro Sableng tertawa.

"Kenapa kau tertawa?" tanya Nilamsuri karena merasa diejek.

"Berapa umurmu, saudaria.?"

Dalam hatinya gadis itu berpikir si pemuda hendak mulai lagi dengan keusilannya. Wiro masih juga tertawa lalu berkata, "Kau masih sangat muda tapi bicaramu sudah seperti orang tuaa."

Mau tak mau Nilamsuri tertawa juga. Tapi tertawa cemberut. Diam-diam hatinya yang tadi tertarik kini semakin senang pada pemuda itu. Tiba-tiba kedua orang
itu saling pandang. Dikejauhan terdengar derap suara kaki kuda.

"Aha. hanya suara kaki-kaki kuda, kenapa terkejut?" tanya Wiro Sableng meskipun hatinya sendiri terasa tidak enak.

"Mungkin sekali, itu adalah manusia-manusia laknat yang tadi mengeroyokku!" kata Nilamsuri.

"Kalau begitu mari cepat-cepat menyingkir!"

Si gadis enam belas tahun gelengkan kepala.

"Lebih baik mati daripada laria.!"

Wiro Sableng menggerendeng. "Keberanianmu tidak pakai pikiran saudari!", katanya. Wiro Sableng melompat ke muka dan menotok bahu kanan Nilamsuri. Gadis itu rebah dalam keadaan kaku tapi sebelum jatuh ke tanah Wiro sudah membopongnya. Segera gadis itu dilarikannya namun kasip. Empat penunggang kuda sudah mengurungnya. Keempatnya tiada lain daripada Bergola Wungu dan anak-anak buahnya.

"Haa.haa, ruapanya ada juga culik kesiangan yang inginkan mangsa kita kawan-kawan!" kata Bergola Wungu.

"Tikus busuk!", kata Ketut Ireng. "Turunkan gadis itu!"

"Masih ingusan sudah tahu perempuan!" memaki Pitala Kuning, anak buah Bergola Wungu yang bermata jereng. "Ayo turunkan gadis itu cepat!"

Perlahan-lahan Wiro Sableng menurunkan tubuh Nilamsuri. Dipandanginya keempat manusia berewok itu seketika. "Saudara-saudara kita tidak saling kenal satu sama lain, mengapa bicara memaki begitu?!"

"Bocah geblek! Terima ini!", bentak Ketut Ireng pergunakan kaki kanannya untuk menendang dada pemuda itu.

"Buuk"!!

Kaki kanan Ketut Ireng mendarat di dada Wiro Sableng. Tidak serambutpun tubuh pendekar dari Gunung Gede ini bergerak. Sebaliknya dari mulut Ketut Ireng
terdengar lolong kesakitan setinggi langit! Tendangan yang dilancarkan Ketut Ireng hanya menggunakan tenaga kasar atau tenaga luar karena dia sama sekali
tidak menduga siapa adanya pemuda berambut gondrong itu. Dan akibatnya dari tendangan itu menimpa dirinya sendiri. Kaki kanannya sampai ke betis kelihatan menjadi gembung dan kehitaman. Ketut Ireng menelungkup di atas punggung kuda dan melolong kesakitan. Kaget Bergola Wungu dan dua orang lainnya bukan olah-olah.

"Sreet"!!

Pemimpin Empat Berewok dari Goa Sanggreng ini segera cabut golok panjangnya. Seta Inging cabut senjatanya yang berupa kelewang sedang Pitala Kuning keluarkan ruyung berdurinya!

"Bocah haram jadah! Siapa kau!?!", bentak Bergola Wungu seraya melintangkan golok di depan dada.

"Aku peringatkan pada kalian," sahut Wiro Sableng dengan suara datar sedang mulutnya menyunggingkan seringai, "aku tidak ada permusuhan dengan kalian. Sebaiknya tinggalkan tempat ini dengan aman!"

"Keparat betul, " kertak Pitala Kuning. "Apa kau tidak tahu berhadapan dengan siapa saat ini?!"

"Aku tidak perduli siapa kalian! Tinggalkan tempat ini kalau tidak mau susah!"

"Sebaiknya kau berlutut dan minta ampun dihadapan kami, bocah gila!"

"Aku bilang tinggalkan tempat ini, apa kalian tuli semua masih pentang bacot?!"

Mendidihlah darah di kepala Bergola Wungu.

 

Views: 123 | Added by: irawanucoz | Rating: 5.0/1

Donasi

If the web is useful to you, we accept donations if you please. Donations will be used for the improvement and advancement of this web.

Jika web ini berguna untuk anda, kami menerima donasinya jika anda berkenan. Donasi akan digunakan untuk perbaikan dan kemajuan web.

IDbase Fanspage

IDbase Shout Chat

Addition menu

Section categories

Welcome [1]
welcome news
About Me [1]
about me
Privacy Policy [1]
kebijakan tentang privacy policy
Disclaimer [1]
kebijakan disclaimer
TOS [1]
kebijakan tos idbase

Our poll

Rate my site
Total of answers: 7

Statistics


Total online: 1
Guests: 1
Users: 0
DMCA.com Protection Status

Ad unit

There may be advertising your product (resource)

Read more...

Ad unit

There may be advertising your product (resource)

Read more...

Ad unit

There may be advertising your product (resource)

Read more...